Posted by: Intan Rahima Sary | 02/14/2014

PARAMETER KIMIA DALAM BUDIDAYA PERAIRAN (Part 2)

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

  1. Karbondioksida

            Karbondioksida (CO2) atau biasa disebut asam arang sangat mudah larut dalam suatu larutan, sehingga meskipun persentase karbondioksida di atmosfer relatif kecil, namun keberadaan karbondioksida diperairan relatif banyak (Tabel 6).

 

Tabel 6. Kelarutan beberapa jenis gas dalam air murni pada suhu     10o C dan tekanan 1 atm

 

Gas

Kelarutan (ml/liter)

1.    Nitrogen (N2)

18,61

2.    Oksigen (O2)

37,78

3.    Argon (Ar)

41,82

4.    Karbondioksida (CO2)

1.194,00

 

 

 

 

            Karbondioksida diperairan berasal dari berbagai sumber, seperti:

a.    Difusi dari atmosfer

b.    Air hujan. Air hujan yang jatuh kepermukaan bumi membawa karbondioksida sebesar 0,55 – 0,60 mg/liter (berasal dari karbondioksida yang terdapat di atmosfer)

c.    Air yang melewati tanah organik. Karbondioksida yang terkandung di tanah organik tersebut berasal dari hasil dekomposisi yang terlarut dalam air.

d.    Respirasi tumbuhan, hewan, dan bakteri aerob maupun anaerob.

           

            Sebagian kecil karbondioksida yang terdapat di atmosfer larut ke dalam uap air membentuk asam karbonat dan jatuh sebagai hujan. Oleh karena itu, air hujan selalu bersifat asam dengan nilai pH sekitar 5,6. Hal yang sama terjadi jika karbondioksida masuk ke badan air, maka sekitar 1% karbondioksida bereaksi dengan air membentuk asam karbonat, seperti pada persamaan reaksi di bawah:

(1)       CO2     +  H2O ↔ H2CO3

                        H2CO3 ↔ HCO3 + H+ (K = 10 -7)

                        HCO3  ↔ CO32-  + H+ (K = 10 -11)  

(2)       CO2     +  OH  ↔ HCO3

 

            Pada pH < 8, reaksi akan terjadi seperti pada reaksi (1), sedangkan reaksi (2) terjadi terutama apabila nilai pH > 10. Pada umumnya, perairan alami mengandung karbondioksida sebesar 2 mg/liter. Pada konsentrasi yang tinggi (> 10 mg/l), karbondioksida dapat beracun karena keberadaannya dalam darah dapat menghambat pengikatan oksigen oleh hemoglobin. Perairan tawar alami hampir tidak pernah memiliki nilai pH > 9, sehingga tidak ditemukan karbon dalam bentuk karbonat.

            Ikan mempunyai toleransi terhadap konsentrasi karbondioksida (CO2) yang tinggi dalam air, tetapi ikan akan menghindar bila konsentrasi CO2 tersebut lebih rendah dari 5 mg/l. Hampir semua jenis ikan dapat bertahan hidup pada air yang mengandung CO2 sebesar 60 mg/L, asalkan konsentrasi oksigen terlarutnya tinggi. Akan tetapi, apabila kadar karbondioksida dalam perairan antara 60 – 100 mg/L, maka dapat mematikan ikan dalam waktu yang lama. Sedangkan kadar karbondioksida 100 – 200 mg/L bersifat akut. Apabila konsentrasi oksigen terlarut rendah, maka CO2 akan menghambat pemakaian oksigen oleh ikan. Namun, biasanya bila konsentrasi oksigen terlarut rendah, maka konsentrasi CO2 dalam air sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena CO2 yang dibebaskan pada waktu bernafas (respirasi) digunakan dalam fotosintesa. Bila oksigen terlarut rendah, maka fotosintesa akan berlangsung perlahan – lahan. Oleh karena itu konsentrasi CO2 meningkat bila CO2 yang dibebaskan melalui respirasi tidak diserap oleh fitoplankton untuk fotosintesa. Karena adanya hubungan yang erat antara CO2 dengan respirasi dan fotosintesa, maka konsentrasi CO2 ini biasanya meningkat pada waktu malam hari dan menurun kembali pada waktu siang hari. Konsentrasi CO2 meningkat terutama bila fitoplankton mati karena hilangnya stratifikasi suhu dalam air dan juga bila cuaca mendung.

 

  1. Total Alkalinitas

            Total alkalinitas adalah konsentrasi total dari basa yang terkandung dalam air dan dinyatakan dalam mg/l yang setara dengan kalsium karbonat. Alkalinitas juga dapat diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH perairan. Diperairan, penyusun alkalinitas utama adalah anion bikarbonat (HCO3), karbonat (CO32-), dan hidroksida (OH). Di antara ketiga ion tersebut, bikarbonat paling banyak terdapat pada perairan alami. Ketersediaan ion karbonat (CO32-) dan bikarbonat (HCO3) diperairan sangat penting, karena berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan plankton dan kualitas air lainnya (seperti pH), sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi budidaya. Oleh karena itu, nilai alkalinitas sangat dipengaruhi oleh pH (ditunjukkan dalam Tabel 7).

Tabel 7. Hubungan antara pH, Alkalinitas Total, dan Karbondioksida Bebas

pH

Alkalinitas

(mg/l CaCO3)

CO2 bebas (mg/l)

pH

Alkalinitas

(mg/l CaCO3)

CO2 bebas (mg/l)

5,0

0

9,7

6,8

10

3,1

1

24,3

50

15,4

2

48,5

100

30,7

5,2

0

4,9

7,0

50

9,7

2

26,5

100

19,4

5

66,2

200

38,7

pH

Alkalinitas

(mg/l CaCO3)

CO2 bebas (mg/l)

pH

Alkalinitas

(mg/l CaCO3)

CO2 bebas (mg/l)

5,4

0

1,5

7,2

50

6,1

2

16,1

100

12,3

5

40,3

200

24,5

5,6

0

0,6

7,4

50

3,9

5

24,7

100

7,8

10

49,3

200

15,6

5,8

0

0,2

7,6

50

2,4

5

15,5

100

4,8

10

30,9

200

9,7

6,0

10

19,5

7,8

50

1,5

15

29,2

100

3,1

20

28,9

200

6,1

6,2

10

12,3

8,0

100

1,9

20

24,5

200

3,8

30

36,8

300

5,7

6,4

10

7,7

8,2

100

1,2

30

23,2

200

2,4

50

38,7

300

3,6

6,6

10

4,9

 

 

 

50

24,4

 

 

 

100

48,8

 

 

 

 

            Nilai alkalinitas perairan alami hampir tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi. Nilai alkalinitas yang baik untuk budidaya ikan berkisar antara 20 – 300 mg/liter CaCO3.

            Secara umum, pada waktu pagi hari pH air akan lebih tinggi diperairan yang total alkalinitasnya sedang atau tinggi daripada perairan yang rendah total alkalinitasnya. Tersedianya CO2 untuk pertumbuhan plankton berkaitan dengan alkalinitas air. Perairan dengan total alkalinitas kurang dari 15 atau 20 mg/l mengandung CO2 dalam jumlah sedikit, sehingga tidak optimal untuk produksi plankton pada budidaya ikan. Sedangkan pada perairan yang memiliki total alkalinitas 20 – 150 mg/liter mengandung jumlah CO2 yang cukup untuk produksi plankton. Akan tetapi, untuk tumbuh optimal, plankton menghendaki total alkalinitas sekitar 80 – 120 mg/liter.

            Nilai pH diperairan berbanding terbalik dengan nilai alkalinitas. Pada siang sampai sore hari, pH akan cenderung meningkat dan total alkalinitas menurun. Hal ini disebakan karena pada siang sampai sore hari CO2 yang bersifat asam digunakan oleh fitoplankton untuk fotosintesis. Sebaliknya pada malam hingga pagi hari, fitoplankton tidak aktif melakukan fotosintesis, sehingga CO2 yang dihasilkan selama proses respirasi akan terhidrolisa menjadi hidrogen yang merupakan unsur asam dan bikarbonat yang merupakan unsur alkali, sehingga pH menjadi turun dan alkalinitas meningkat, seperti yang terlihat pada reaksi berikut:

CO2 + H2O ↔ H+ + HCO3

 

  1. Amonia Dan Nitrit

            Amonia (NH3) dan nitrit (NO2) merupakan senyawa – senyawa nitrogen yang pada kondisi tertentu bersifat toksik terhadap organisme perairan. Amoniak dan nitrit yang terdapat dalam air merupakan hasil penguraian bahan organik yang berasal dari hasil metabolisme ikan ataupun dari sisa pakannya yang tertumpuk di dasar perairan dengan kandungan protein tinggi yang terurai menjadi polypeptida, asam – asam amino dan akhirnya amonia sebagai produk akhir yang terakumulasi di dasar perairan. Di air, amonia dan nitrogen terdapat dalam 2 bentuk, yaitu bentuk amonia bukan ion (NH3) yang beracun atau Unionized Ammonia (UIA) dan bentuk ion amonium (NH4+) yang kurang beracun atau Ionized Ammonia (IA). Kedua bentuk amonia tersebut di air berada dalam kesetimbangan seperti reaksi berikut:

                                    NH4+   + OH ↔ NH3 + H2O

 

            Tingkat daya racun amonia (NH3) dalam kolam dengan pemaparan waktu yang berlangsung singkat adalah antara 0,6 – 2,0 mg/l. Batas pengaruh yang mematikan dapat terjadi bila konsentrasi NH3 pada air kolam sekitar 0,1 – 0,3 mg/l. Kadar amonium yang tinggi dapat mengakibatkan gejala keracunan, menurunkan nafsu makan ikan sehingga bisa menghambat pertumbuhan ikan serta mematikan dalam kadar diatas 0,6mg/L. Kadar amonium tidak boleh lebih dari 0,1 mg/l. pH dan suhu air dapat mengatur perbandingan jumlah amonia yang menjadi bentuk bukan ion. Kenaikan setiap 1 unit pH dapat menyebabkan peningkatan kelipatan 10 amonia bukan ion. Semakin tinggi pH air kolam, maka daya racun amonia semakin meningkat, karena sebagian besar berada dalam bentuk NH3, sedangkan amonia dalam bentuk molekul (NH3) lebih beracun daripada yang berbentuk ion (NH4+). Amonia dalam bentuk molekul dapat menembus bagian membran sel lebih cepat daripada ion NH4+. Daya racun amonia juga dipengaruhi oleh suhu, dimana daya racun akan meningkat pada suhu yang lebih tinggi (Tabel 8).

Tabel 8. Persentase total amonia dalam hubungannya dengan pH dan suhu.

pH

Suhu (o C)

10

15

20

25

30

6,0

0,086

0,027

0,040

0,057

0,081

6,5

0,059

0,087

0,125

0,180

0,250

7,0

0,186

0,273

0,396

0,566

0,799

7,5

0,586

0,859

1,240

1,770

2,480

8,0

1,830

2,670

3,820

5,380

7,460

8,5

5,560

7,970

11,200

15,300

20,300

9,0

15,700

21,500

28,400

36,300

44,600

Sumber: Noga, 1996

 

 

            Pengaruh langsung dari kadar amonia tinggi yang belum mematikan ialah rusaknya jaringan insang, dimana lempeng insang membengkak sehingga fungsinya sebagai alat pernafasan akan terganggu, akibatnya ikan tidak lagi hidup normal.

            Di alam sebenarnya dapat terjadi perombakan amonia menjadi nitrat (NO3) dengan bantuan bakteri nitrifikasi (Nitrosomonas dan Nitrobacter), dalam proses nitrifikasi. NO3 merupakan suatu bentuk yang tidak berbahaya bagi ikan. Konsentrasi nitrat yang sesuai untuk budidaya ikan air tawar adalah 0,2 – 10 mg/l. Sedangkan nilai optimum yang sesuai untuk pertumbuhan adalah < 3.0 mg/l.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Siklus nitrogen diperairan

 

            Untuk melakukan proses dekomposisi, maka kedua bakteri nitrifikasi tersebut memerlukan banyak oksigen, sehingga pemberian aerasi pada perairan sangat menunjang proses nitrifikasi. Selain itu, bakteri juga memerlukan sumber karbon yang cukup di dalam air sebagai sumber energi.

            Nitrit (NO2) juga beracun terhadap ikan karena mengoksidasi Fe2+ di dalam hemoglobin. Akumulasi nitrit di dalam perairan terjadi sebagai akibat tidak seimbangnya antara kecepatan perubahan dari nitrit menjadi nitrat dan dari amonia menjadi nitrit. Kisaran toleransi ikan terhadap kandungan nitrit sampai 0,5 mg/l dalam jangka waktu pendek. Konsentrasi nitrit diatas 0,1 mg/L menyebabkan turunnya kadar hemoglobin dalam darah ikan yang dapat mengganggu transpor oksigen dalam tubuh ikan.

            Kandungan nitrit yang meningkat dikarenakan terjadinya proses nitrifikasi, yaitu proses pengubahan amonia menjadi nitrat dengan nitrit sebagai senyawa perantaranya. Dalam suatu badan perairan, jika didalamnya cukup banyak mengandung kation – kation, asam nitrit yang terbentuk akan segera berubah menjadi garam – garam nitrit kemudian diubah lebih lanjut menjadi garam- garam nitrit dengan reaksi sebagai berikut :

                        2 NaNO2 + O2 ® 2 NaNO3  (Rifa’i dan Pertagunawan, 1982).

            Walaupun tidak setoksik amonium, level nitrit yang tinggi dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan karena nitrit dalam level tinggi mampu secara aktif melewati insang melalui transport aktif dan menuju aliran darah yang bisa mengoksidasi hemoglobin normal menjadi methemoglobin. Hemoglobin normal mengambil oksigen pada insang dan mentransportasikannya dalam jaringan tubuh yang kemudian diubah menjadi karbondioksida, sedangkan methemoglobin tidak mampu mentransportasikan oksigen, sehingga mengakibatkan stress pada ikan karena sulit bernafas.

Posted by: Intan Rahima Sary | 05/14/2012

ANEKA OLAHAN IKAN

Sektor perikanan tidak terbatas hanya pada bidang perikanan tangkap dan budidaya (pembenihan dan pembesaran) ikan saja. Akan tetapi, juga termasuk didalamnya adalah pada bidang pengolahan hasil perikanan. Seperti yang kita ketahui, bahwa sektor perikanan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia terutama dalam penyediaan lapangan pekerjaan, sumber pendapatan nelayan, sebagai potensi sumber protein hewani dan juga sebagai sumber devisa negara.

Untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani, maka dapat diperoleh melalui pemanfaatan Hasil Tangkapan Samping (HTS) ikan non ekonomis menjadi produk yang mempunyai nilai tambah. Salah satu usaha untuk meningkatkan diversifikasi olahan produk perikanan adalah dengan pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan yang dapat meningkatkan nilai jual produk tersebut.

Beberapa hasil olahan ikan yang dapat memberikan nilai tambah adalah kaki naga ikan, nugget ikan, rolade ikan,  martabak ikan, dll. Ingin mencoba dirumah….??

Berikut adalah beberapa resep cara pembuatan produk – produk olahan tersebut:

A. KAKI NAGA IKAN

Produk ini merupakan jenis olahan bentuk jelly (fish jelly) yang telah berkembang dan telah diperdagangkan secara komersial di pasar lokal dengan bahan baku dari ikan atau udang.

Bahan Baku :

Surimi/lumatan daging ikan 100 %  (1000 gram)

Bahan tambahan dan bahan pembantu :

  1. Garam 2,1% (21 gram)
  2. Tepung terigu 10 % (100 gram)
  3. Lada 2 gram
  4. Bawang putih 50 gram
  5. Bawang bombay 50 gram
  6. Wortel 50 gram
  7. Kembang tahu 30 gram
  8. Putih telur 100 gram

Campuran adonan pembalut (coating) terdiri dari :

  1. Tepung maizena (150 gram)
  2. Tepung terigu (250 gram)
  3. Tepung roti (585 gram)
  4. Garam (15 gram)

Cara pengolahan :

  • Ikan yang telah dipotong- potong dilumatkan dengan menggunakan mixer
  • Tambahkan garam sambil terus diaduk hingga terbentuk adonan lengket
  • Tambahkan bahan tambahan sambil terus diaduk hingga homogen
  • Setelah homogen, buat adonan menjadi lonjong atau bulat dan ditusukkan pada tusukan sate yang akan disiapkan
  • Adonan yang telah dibentuk dan ditusuk kemudian dibalutkan kedalam  adonan pembalut
  • Kemudian lakukan pengukusan selama kurang lebih 10 menit

Kaki naga siap dikemas atau dapat disajikan matang dengan menggorengnya hingga matang.

B. NUGGET IKAN

Nugget ikan merupakan salah satu bentuk olahan dari ikan yang dicelupkan ke dalam batter kemudian dilumuri tepung roti dan digoreng cepat.

Bahan Baku : Daging ikan yang telah dilumatkan

Formulasi Bahan A :

  1. Lumatan daging ikan (1000 gram)
  2. Garam (17,8 gram)
  3. Tepung terigu (42,8 gram)
  4. Air Es (71,4 gram)
  5. Minyak Sayur (35,7 gram)
  6. Gula (12 gram)
  7. Seasoning (10 gram), terdiri dari bawang merah, bawang putih dan MSG dengan perbandingan 10:8:2

Formulasi Bahan B :

  1. Tepung terigu (350 gram)
  2. Garam (24 gram)
  3. Tepung maizena (100 gram)
  4. Baking powder (5 gram)
  5. Lada (15 gram)
  6. Air Es (700 ml)

Cara pengolahan:

  • Daging ikan dilumatkan dengan menggunakan mixer
  • Tambahkan garam sambil terus diaduk hingga terbentuk adonan lengket. Selanjutnya tambahkan bumbu – bumbu lainnya dan campur hingga benar – benar homogen. Pengadukan dilakukan selama 10 – 15 menit
  • Cetak ukuran 4x3x1 cm atau sesuai selera, celupkan dalam adonan batter dan lumuri dengan tepung roti serta simpan dalam suhu beku

Nugget ikan siap dikemas atau disajikan matang dengan menggoreng cepat pada minyak panas.

C. ROLADE IKAN

Bahan – bahan :

8 butir telur ayam; 60 gram tepung terigu; 5 sendok makan air; minyak goreng secukupnya; 0,5 kg daging ikan (tuna) yang sudah dihaluskan; 2 iris roti tawar, dibuang kulitnya, direndam dalam air sampai lunak kemudian tiriskan; lada, garam halus secukupnya; 7 siung bawang merah; 2 siung bawang putih; 1 ibu jari jahe (2 cm).

Cara membuat :

  • Larutkan tepung terigu dengan air
  • Kocok 3 butir telur, campurkan larutan terigu kedalam kocokan telur
  • Panaskan wajan, oleskan minyak goreng, tuangkan 1/3 dari kocokan telur cepat – cepat gerakkan wajan sampai seluruh wajan tertutup
  • Setelah masak angkat, letakkan dalam talenan, lakukan hal yang sama untuk sisa telur yang ada
  • Haluskan bumbu – bumbu (bawang merah, bawang putih, jahe) dan campurkan bumbu tsb dengan ikan tuna yang telah dihaluskan
  • Tambahkan roti, sisa telur, garam dan lada, kemudian aduk sampai rata
  • Bagilah adonan menjadi 3 bagian, dan letakaan tiap bagian diatas lembaran telur dadar dan ratakan
  • Gulunglah telur dadar yang berisi ikan tuna dan kukus sampai matang
  • Angkat dan setelah dingin dipotong – potong setebal kurang lebih 1,5 cm
  • Bisa juga dihidangkan dengan saus semur

SELAMAT MENCOBA DAN SEMOGA BERMANFAAT!

sumber: BBP2HP

Posted by: Intan Rahima Sary | 05/11/2012

PARAMETER KIMIA DALAM BUDIDAYA PERAIRAN (Part 1)

Lingkungan hidup biota perairan berada di dalam air, sehingga untuk membudidayakan biota air juga dilakukan di dalam air. Prinsipnya, semua lingkungan perairan yang didalamnya terdapat kehidupan biota air dapat digunakan untuk budidaya biota air tertentu. Akan tetapi, parameter kualitas air merupakan faktor pembatas terhadap jenis biota air yang dibudidayakan di suatu perairan. Oleh karena itu, agar dapat tumbuh secara optimal, biota yang dibudidayakan membutuhkan lingkungan hidup yang optimal pula (Tabel 1). Para pembudidaya harus mengetahui pengaruh kualitas air, khususnya faktor kimia air, terhadap biota yang dibudidayakan. Parameter kimia air yang perlu diketahui diantaranya adalah derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut (DO), karbondioksida, alkalinitas, kesadahan, amonia, nitrat dan nitrit.

Tabel 1. Kualitas air optimal untuk beberapa biota air

Biota Air

Nama Ilmiah

Kebutuhan kualitas air

Oksigen (mg/l)

pH

Salinitas (ppt)

Biota Laut/Payau
Bandeng Chanos chanos

4 – 7

7 – 9

0 – 35*

Beronang Siganus sp

4 – 7

7 – 9

15 – 35

Kakap Putih Lates calcalifer

3 – 7

7 – 9

0 – 35*

Kakap Merah Lutjanus argentimaculatus

4 – 7

7 – 9

30 – 35

Kerapu Bebek Cromileptes altivelis

5 – 6

7 – 8

33 – 35

Kerapu Lumpur Epinephelus suillus

5 – 6

7 – 8

15 – 35

Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus

5 – 6

7 – 8

33 – 35

Udang windu Penaeus monodon

5 – 10

7,5 – 8,7

10 – 32

Rumput Laut Eucheuma spinosum

4 – 6

7 – 8

27 – 30

Rumput Laut Gracillaria sp

4 – 6

7 – 8

20 – 30

Teripang Holothuria scabra

4 – 8

6,5 – 8,5

26 – 33

Mutiara Pinctada maxima

4 – 7

7,5 – 8,5

32 – 35

Kerang hijau Perna viridis

3 – 7

6 – 9

27 – 34

Kerang darah Anadara granosa

3 – 6

6 – 9

15 – 34

Biota Air Tawar
Mas Cyprinus carpio

5 – 6

7 – 8

0

Gurami Osphronemus gouramy

3 – 4

6,5 – 9,0

0

Tawes Barbodes gonionotus

5 – 6

6,5 – 9,0

0

Sepat Trichogaster pectoralis

3 – 4

6,5 – 9,0

0

Lele Clarias batrachus

3 – 4

6,5 – 9,0

0

Lele dumbo Clarias gariepinus

3 – 4

6,5 – 9,0

0 – 30**

Biota Air

Nama Ilmiah

Kebutuhan kualitas air

Oksigen (ppm)

pH

Salinitas (ppt)

Nila Oreochromis niloticus

5 – 6

7 – 9

0 – 30**

Mujair Oreochromis mossambicus

5 – 6

7 – 9

0

Bawal tawar Colossoma macropomum

4 – 6

7 – 8

0

Betutu Oxyeleotris marmorata

4 – 6

7 – 8

0

Jambal/patin Pangasius sp

5 – 6

7 – 8

0

Jambal siam Pangasius sutchi

5 – 6

7 – 8

0

Udang galah Macrobrachium rosenberghii

5 – 7

7 – 8

0

Keterangan : */**Ikan yang dapat mentolerir kisaran salinitas luas (euryhaline), namun agar tumbuh optimal, salinitas perlu dipertahankan pada kisaran tetap

Parameter kimia air yang sangat berperan dalam pemeliharaan biota perairan adalah derajat keasaman (pH), kandungan oksigen terlarut (DO), karbondioksida, alkalinitas, kesadahan, amonia, nitrat dan nitrit.

  1. Derajat keasaman

Derajat keasaman lebih dikenal dengan istilah pH (singkatan dari puissance d’Hydrogen), yaitu logaritma dari kepekatan ion – ion hidrogen (H) yang terlepas dalam suatu cairan.

Ion hidrogen bersifat asam. Keberadaan ion hidrogen menggambarkan nilai pH (derajat keasaman) pada suhu tertentu atau dapat ditulis dengan persamaan pH = – log [H+].

Air murni (H2O) berasosiasi secara sempurna sehingga memiliki ion H+ dan ion H dalam konsentrasi yang sama dan membentuk kesetimbangan seperti:

2H2O              ↔        H3O+ (Ion hidronium)  +    OH–   (Ion hidroksil)

H2O                 ↔        H+ + OH

Oleh karena itu, pH air murni memiliki nilai 7. Semakin tinggi konsentrasi ion H+, maka ion OH akan semakin rendah, sehingga pH mencapai nilai < 7 (perairan asam). Sebaliknya, apabila konsentrasi ion OH lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi ion H+, maka perairan tersebut sifatnya basa karena memiliki nilai pH > 7. Perairan memiliki klasifikasi pH seperti:

pH = 7                      : netral

7 < pH < 14                : alkalis (basa)

0 < pH < 7                  : asam

Secara alamiah, pH perairan dipengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida (CO2) dan senyawa bersifat asam. Perairan umum dengan aktivitas fotosintesis dan respirasi organisme yang hidup didalamnya akan membentuk reaksi berantai karbonat – karbonat sebagai berikut:

CO2 + H2O → H2CO3 → H+ + HCO3 → 2H+ + CO32-

Semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari hasil respirasi, reaksi bergerak ke kanan dan secara bertahap melepaskan ion H+ yang menyebabkan pH air turun. Reaksi sebaliknya terjadi pada peristiwa fotosintesis yang membutuhkan banyak ion CO2, sehingga menyebabkan pH air naik. Pada peristiwa fotosintesis, fitoplankton dan tanaman air lainnya akan mengambil CO2 dari air selama proses fotosintesis sehingga mengakibatkan pH air meningkat pada siang hari dan menurun pada waktu malam hari.

Selain berkaitan dengan karbondioksida, pH juga berkaitan erat dengan alkalinitas. Semakin tinggi nilai pH, maka semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Air dengan total alkalinitas yang rendah biasanya mempunyai nilai pH sekitar 6 – 7,5 pada waktu pagi hari, tetapi bila plankton berkembang menjadi banyak, maka pH air akan meningkat sampai 10 atau lebih pada waktu sore hari. Fluktuasi pH pada air yang total alkalinitasnya lebih tinggi tidak terlalu besar, sekitar 7,5 atau 8 pada siang hari dan sekitar 9 atau 10 pada sore hari. Pada beberapa perairan yang memiliki nilai total alkalinitas tinggi, nilai pH akan meningkat mencapai di atas 11 selama periode proses fotosintesis yang berlangsung cepat. Pada pH < 5, alkalinitas dapat mencapai nilai nol. Oleh karena itu, pengukuran pH air sebaiknya dilakukan pada waktu subuh dan sore hari untuk mengetahui pola perkembangan pH air kolam.

Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8,5. Nilai pH akan mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Pengaruh nilai pH terhadap komunitas biologi perairan ditunjukkan dalam Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Pengaruh pH Terhadap Komunitas Biologi Perairan

Nilai pH

Pengaruh Umum

6,0 – 6,5

  1. Keanekaragaman plankton dan bentos sedikit menurun
  2. Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas tidak mengalami perubahan

5,5 – 6,0

  1. Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan bentos semakin tampak
  2. Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas masih mengalami perubahan
  3. Alga hijau berfilamen mulai tampak pada zona litoral

5,0 – 5,5

  1. Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar
  2. Terjadi penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan bentos
  3. Algae hijau berfilamen semakin banyak
  4. Proses nitrifikasi terhambat

4,5 – 5,0

  1. Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar
  2. Terjadi penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan bentos
  3. Algae hijau berfilamen semakin banyak
  4. Proses nitrifikasi terhambat

Sumber: Baker et al., 1990 dalam Novotny dan Olem, 1994.

Apabila pH air kolam berkisar antara 6,5 – 9 pada siang hari, maka kondisi tersebut merupakan kondisi optimal bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang. Air kolam dengan nilai pH 4 dan kebasaan pada pH 11 merupakan titik kematian bagi ikan. Meskipun ikan akan bertahan untuk hidup pada pH 4 – 6 dan pH 9 – 10 (Tabel 3), tetapi produksi yang dihasilkan sangat rendah. Pada sore hari biasanya pH air kolam akan meningkat dan mencapai 9 – 10  untuk beberapa saat yang singkat, tanpa menimbulkan pengaruh yang merugikan kehidupan ikan.

Tabel 3. Hubungan antara pH air dan kehidupan ikan budidaya

pH air

Pengaruh terhadap ikan budidaya

< 4,5

–   Tingkat keasaman yang mematikan-   Air bersifat racun bagi ikan-   Tidak ada reproduksi

5 – 6,5

–   Pertumbuhan ikan terhambat-   Ikan sangat sensitif terhadap serangan bakteri dan parasit

6,5 – 9,0

–   Kisaran kondisi yang baik untuk produksi-   Ikan mengalami pertumbuhan optimal

> 9,0

–   Tingkat alkalinitas mematikan-   Pertumbuhan ikan terhambat

pH juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa amonium yang dapat terionisasi banyak ditemukan pada perairan dengan nilai pH rendah. Amonium bersifat tidak toksik. Namun pada suasana alkalis (pH tinggi), lebih banyak ditemukan amonia yang tidak terionisasi (unionized) dan bersifat toksik, karena amonia yang tidak terionisasi ini akan lebih mudah terserap ke dalam tubuh organisme akuatik dibandingkan dengan amonium.

   2. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut merupakan parameter kualitas air yang paling kritis pada budidaya ikan dan merupakan salah satu faktor pembatas, sehingga bila ketersediaannya di dalam air tidak mencukupi kebutuhan biota budidaya, maka segala aktivitas biota akan terhambat. Biota air membutuhkan oksigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan) untuk melakukan aktivitas, seperti berenang, pertumbuhan dan reproduksi. Oleh karena itu, ketersediaan oksigen bagi biota air akan menentukan faktor – faktor pertumbuhan seperti konversi pakan dan laju pertumbuhan.

Oksigen yang diperlukan biota air untuk pernafasannya harus terlarut di dalam air, akan tetapi ketersediaan oksigen yang terlarut di dalam air tersebut sangat sedikit, meskipun udara atmosfir merupakan tempat cadangan oksigen terbesar. Kelarutan oksigen diperairan tersebut sangat bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas dan tekanan atmosfir. Kelarutan oksigen dalam air akan menurun dengan meningkatnya suhu, karena peningkatan suhu sebesar 1o C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%. Bila pada suhu yang sama konsentrasi oksigen terlarut sama dengan jumlah kelarutan oksigen yang ada pada air, maka air tersebut dapat dikatakan sudah jenuh dengan oksigen terlarut. Bila air mengandung lebih banyak oksigen terlarut daripada yang seharusnya pada suhu udara tertentu, artinya oksigen dalam air tersebut sudah lewat jenuh (super saturasi). Pada kondisi jenuh tersebut, tidak ada oksigen yang mengalami difusi dari udara ke dalam air dan sebaliknya.

Diperairan tawar, kadar oksigen terlarut berkisar antara 15 mg/L pada suhu 0o C dan 8 mg/L pada suhu 25o C. Keadaan perairan dengan kadar oksigen yang sangat rendah berbahaya bagi organisme akuatik. Semakin rendah kadar oksigen terlarut, semakin tinggi toksisitas logam – logam berat yang tidak diperlukan (seperti tembaga, timbal atau hidrogen sulfida). Perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaiknya memiliki kadar oksigen tidak kurang dari 6 mg/L. Bila kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/L, menimbulkan efek yang kurang menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik, dimana beberapa jenis ikan masih dapat bertahan hidup, akan tetapi nafsu makannya mulai menurun dan tidak dapat berkembang dengan baik. Hanya ikan – ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang mampu hidup pada perairan dengan kandungan oksigen rendah, seperti lele, gurami, sepat, betok dan gabus. Apabila kadar oksigen terlarut diperairan kurang dari 2 mg/L akan menyebabkan kematian bagi ikan (Tabel 4). Fluktuasi oksigen terlarut tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap nafsu makan dan pertumbuhan ikan apabila konsentrasi oksigen terlarut yang ada pada kolam setiap hari tidak lebih rendah dari 1 – 2 mg/L pada pagi hari dan kemudian meningkat sampai mendekati titik jenuh dalam waktu beberapa jam setelah matahari terbit.

 Tabel 4. Kadar Oksigen Terlarut dan Pengaruhnya terhadap Kelangsungan Hidup Ikan

Kadar Oksigen Terlarut (mg/L)

Pengaruh terhadap Kelangsungan Hidup Ikan

< 0,3

Hanya sedikit jenis ikan yang dapat bertahan pada masa pemaparan singkat (short exposure)

0,3 – 1,0

Pemaparan lama (prolonged exposure) dapat mengakibatkan kematian ikan

1,0 – 5,0

Ikan dapat bertahan hidup, tetapi pertumbuhannya terganggu

>5,0

Hampir semua organisme akuatik menyukai kondisi ini


            Sumber oksigen terlarut dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer (sekitar 35%) dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Proses difusi terjadi secara cepat pada selaput permukaan air, namun akan berjalan sangat lambat kelapisan air yang lebih dalam. Difusi ini dapat terjadi akibat adanya gelombang atau ombak dan air terjun, oleh karena itu pemasangan alat aerator pada suatu kolam budidaya dapat membantu terjadinya difusi oksigen. Namun, pada dasarnya difusi oksigen dari atmosfer keperairan berlangsung relatif lambat, meskipun terjadi pergolakan massa air. Oleh karena itu, sumber utama oksigen diperairan adalah dari fotosintesis. Jasad hidup melalui proses fotosintesis dapat menghasilkan oksigen seperti terlihat pada persamaan reaksi berikut:

cahaya

6 CO2 + 6 H2O      →        C6H12O6 + 6 O2

                                                            klorofil

Pada proses fotosintesis, karbondioksida direduksi menjadi karbohidrat dan air mengalami dehidrogenasi menjadi oksigen. Proses fotosintesis ini dapat menghasilkan oksigen sedemikian besarnya sehingga kadar oksigen dapat mencapai lewat jenuh (over saturated), terutama pada siang hari ketika matahari bersinar terang, pelepasan oksigen oleh proses fotosintesis yang berlangsung intensif pada lapisan eufotik lebih besar daripada oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi. Produksi oksigen melalui proses fotosintesis tergantung pada keadaan penyinaran matahari dan kepadatan plankton.

Sumber oksigen lainnya adalah aliran baru yang masuk kedalam kolam. Air baru umumnya mengandung kadar oksigen lebih tinggi dan sewaktu air tersebut masuk ke dalam kolam, kadar oksigen dapat lebih meningkat karena turbulensi/arus air.

Oksigen di dalam air dapat berkurang karena proses respirasi oleh plankton (termasuk fitoplankton), ikan budidaya, organisme dasar (bentos) dan difusi oksigen ke udara, serta proses oksidasi bahan organik oleh bakteri aerob. Pada Tabel 5 dapat dilihat gambaran mengenai pertambahan dan berkurangnya oksigen terlarut dalam kolam secara harian karena proses fotosintesis, respirasi dan difusi.

Tabel 5. pertambahan dan berkurangnya oksigen terlarut dalam kolam secara harian karena proses fotosintesis, respirasi dan difusi

Kegiatan – kegiatan

Kisaran oksigen (mg/L)

Pertambahan : Fotosintesis oleh fitoplanktonDifusi

5 s/d 20

1 s/d 5

Kehilangan : Pernafasan planktonPernafasan ikanPernafasan organisme dasar (bentos)

Difusi

5 s/d 15

2 s/d 6

1 s/d 3

1 s/d 5

Pada suatu kolam budidaya ikan, jumlah oksigen yang ada atau yang diproduksi oleh plankton harus lebih besar daripada yang diperlukan oleh organisme; bila tidak, maka oksigen terlarut yang ada di air akan habis terpakai. Cahaya matahari menjadi faktor utama yang mengatur proses fotosintesis fitoplankton. Pada kedalaman kolam dimana intensitas sinar matahari cukup besar untuk melangsungkan fotosintesis, maka oksigen terlarut akan dihasilkan secara berlebihan yang besarnya tergantung dari kepadatan plankton. Kekuatan daya tembus (intensitas) sinar matahari akan menurun bila menembus air kolam, karena sinar akan dipantulkan dan diserap oleh plankton, organisme – organisme lain, senyawa – senyawa tersuspensi dan yang larut di kolam. Oleh karena itu, kecepatan produksi oksigen oleh fitoplankton akan menurun sesuai dengan meningkatnya tingkat kedalaman kolam sampai pada kedalaman tertentu dimana oksigen tidak dihasilkan lagi. Pada umumnya hampir setiap kolam yang mempunyai kedalaman minimal 2 – 3 kali nilai secchi (60 – 90 cm) dianggap cukup mengandung jumlah oksigen terlarut untuk menunjang kehidupan ikan.

Konsentrasi oksigen terlarut dalam air di kolam selama 24 jam menunjukkan fluktuasi yang tajam/besar. Konsentrasi oksigen terlarut akan mencapai jumlah yang terendah pada waktu shubuh dan kemudian meningkat pada waktu siang hari dan jumlah tertinggi dicapai pada waktu sore hari kemudian menurun kembali pada waktu malam hari.

Image

Posted by: Intan Rahima Sary | 03/08/2012

DUCKWEED SEBAGAI GULMA YANG BERMANFAAT

Anda pernah mendengar kata “duckweed?” atau “kiambang?” Istilah lokal yang sering disebut adalah “kayambang”. Duckweed atau kiambang yang selama ini dianggap sebagai pengganggu ikan peliharaan bagi sebagian pembudidaya ikan ternyata adalah salah satu tanaman akuatik yang memiliki potensi sebagai pakan untuk ikan dan udang. Beberapa contoh duckweed yang dapat diberikan pada ikan dan udang adalah dari genus Lemna sp, Spirodela, Wolfia, Wolffiella dan Azolla sp. Dari beberapa genus tersebut, Lemna dengan spesies Lemna minor menjadi salah satu kiambang yang sering diberikan untuk ikan, udang dan beberapa jenis unggas.

Mengapa harus Lemna minor…………?

Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir 70% biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pembudidaya dalam membudidayakan ikan adalah pada biaya pakan. Tingginya harga pelet sebenarnya sebanding dengan kandungan protein yang ada pada pakan. Semakin tinggi kandungan protein pada pelet, maka semakin tinggi pula harga pakan.

Sebenarnya, penyebab tingginya harga pelet ini dikarenakan oleh beberapa hal seperti:

  1. Penggunaan tepung ikan sebagai salah satu bahan baku utama pakan yang mudah dicerna oleh ikan dan mengandung protein cukup besar, mencapai hingga 60%
  2. Ketidaktersediaan tepung ikan berkualitas di Indonesia, sehingga Indonesia harus mengimpor tepung ikan dari negara lain, seperti Chili, Peru dan Thailand. Hal ini disebabkan tepung ikan lokal memiliki kelemahan dibandingkan dengan tepung ikan impor, misalnya saja kandungan protein pada tepung ikan lokal lebih rendah (47%) dibandingkan dengan tepung ikan impor (56%). Selain itu, tepung ikan lokal mempunyai bau yang lebih menyengat dan berasa asin karena pengawetan dengan garam, sedangkan tepung ikan impor terbuat dari ikan segar anchovy dengan kandungan garam yang sedikit.

Tingginya harga tepung ikan menyebabkan tingginya harga pakan pelet ikan atau udang, namun sayang tidak diimbangi dengan mutu pakan itu sendiri. Hal ini disebabkan karena mutu tepung ikan sebagai salah satu bahan utama pakan semakin hari semakin dipertanyakan kualitas dan kuantitasnya. Semakin sulitnya negara penghasil tepung ikan dalam memperoleh ikan anchovy dari alam, berimbas pada kualitas tepung ikan yang dihasilkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa instansi pendidikan, untuk memenuhi kandungan protein dalam tepung ikan, beberapa produsen penghasil tepung ikan mencampurkan bahan – bahan lain seperti urea dan melamin. Bahan – bahan ini apabila ikut terkonsumsi oleh ikan atau udang akan mengakibatkan pertumbuhan ikan atau udang yang dipelihara rendah, dan secara fatal dapat mengakibatkan kematian secara massal karena rusaknya pencernaan ikan atau udang. Akibatnya, banyak para pembudidaya ikan yang merugi dan akhirnya gulung tikar. Oleh karena itu, dengan menggunakan Lemna minor sebagai campuran bahan pakan pelet, diharapkan pembudidaya ikan dapat menekan biaya operasional yang harus dikeluarkan tanpa mengurangi tingkat pertumbuhan ikan atau udang yang dipelihara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, pakan buatan berbasis L.minor yang diberikan sebagai pakan untuk lobster air tawar Cherax quadricarinatus dapat menekan biaya pakan sebesar Rp. 3.200.000,00.

Mengenal Lemna minor

Di seluruh dunia, khususnya di Asia, banyak petani yang secara alami mengambil tanaman air dan digunakan untuk sejumlah keperluan seperti pakan hewan, pupuk hijau, dan sebagai sumber makanan keluarga. Beberapa negara seperti Vietnam, Thailand dan Australia telah menggunakan L.minor ini sebagai pakan ikan dan ternak.

         L.minor memiliki daun berbentuk oval dan rata/datar, dan memiliki satu akar pada tiap – tiap daunnya. Bagian terbesar yang terkandung dalam daun L.minor adalah sel chlorenchymatous yang terdiri dari sejumlah besar bagian intraseluler yang terisi dengan udara (atau gas lain) dan memberikan kemampuan untuk mengapung.  Biasanya L.minor memiliki akar yang pendek, akan tetapi hal ini tergantung dari kondisi lingkungannya dan panjangnya beragam antara beberapa millimeter hingga 14 cm. Akar ini memiliki kloroplas yang bekerja secara fotosintetis. L.minor berkembang biak secara vegetatif dan seksual, tumbuhnya bunga terjadi secara spora dan tidak dapat diprediksi. Buah dari L.minor memiliki biji yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang kering dalam jangka waktu lama dan secepatnya akan berkembang kembali apabila kondisi lingkungannya sesuai. Pada kondisi suhu, pH, cahaya dan nutrien yang ideal, maka biomassa Lemna minor akan bertambah dua kali lipat dalam waktu 16 jam sampai 2 hari. Pertumbuhan L.minor digambarkan dalam grafik yang bersifat eksponensial, dimana setiap biomassa L.minor yang menutupi lahan seluas 10 cm2, dapat meningkat hingga 1 ha (100 juta cm2) dalam jangka waktu kurang dari 50 hari. Sehingga pada saat biomassa L.minor  bertambah dua kali lipat setiap 1 – 2 hari, maka dalam waktu 60 hari, L.minor dapat menutupi perairan hingga 32 ha. Dilihat dari perkembangannya, maka ketersediaan Lemna minor di alam tidak perlu diragukan. Selain itu, Lemna minor dapat dibudidayakan dengan mudah dan murah.

Lemna minor

  Lemna minor

 Sebagai salah satu tanaman yang dianggap gulma, ternyata L.minor mengandung nutrisi yang sesuai untuk ikan ataupun udang. Sebagai sumber pakan, maka salah satu persyaratan nutrisi yang harus terkandung dalam pakan adalah pada sumber protein dan seratnya. Menurut Leng et al., (1994), komposisi L.minor yang dipanen dari sumber perairan alami dan hasil budidaya adalah seperti pada Tabel di bawah:

Sumber

Kandungan (% b/b)

Protein

Lemak

Serat

Abu

Kolam alami

25 – 35

4,4

8 – 10

15

Budidaya

45

4,0

9

14

Bagaimana membudidayakan L.minor

Selain sebagai pakan substitusi, L.minor juga dapat digunakan sebagai pakan utama ikan, khususnya untuk ikan – ikan yang memiliki sifat herbivora, seperti ikan nila dan ikan mas.

Sebagai sumber pakan utama, Lemna minor dapat dibudidayakan secara langsung pada kolam pemeliharaan ikan. Sedangkan sebagai sumber pakan tambahan, Lemna minor dapat dibudidayakan di wadah tersendiri, berupa kolam atau ember.

Proses budidaya Lemna minor terbilang cukup mudah dan murah. Bahan yang diperlukan untuk budidaya L.minor adalah pupuk kandang kering, baik berupa pupuk kotoran ayam, sapi, domba, kelinci, dan unggas serta bibit L.minor. Dosis pupuk yang diperlukan adalah 5 gram/liter air.

Berikut ini adalah cara membudidayakan Lemna minor:

  1. Kotoran ayam dosis 5 g/l ditebar secara merata
  2. dalam wadah yang telah disiapkan
  3. Setelah 2 -3 hari bibit Lemna ditebar dalam wadah
  4. Pemeliharaan dilakukan dengan mengganti pupuk yang lama dengan yang baru (dosis ½ dari pupuk awal)
  5. Pemanenan lemna minor dilakukan setelah 1 minggu, dengan metode panen setengah (sebagian)

  L.minor yang dibudidayakan

Posted by: Intan Rahima Sary | 02/10/2012

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Categories